RAWA MAPPI: EKOSISTEM LANGKA (DAN HAMPIR PUNAH) DI SELATAN PAPUA

Berdasarkan pemetaan penutupan lahan dan penilaian konservasi tinggi yang dilakukan USAID LESTARI di Kabupaten Mappi baru-baru ini, diketahui ada 17 tipe vegetasi langka dan kemungkinan hampir punah yang hanya tumbuh di Kabupaten Mappi. Tulisan ini menjelaskan beberapa yang berperan sebagai spesies kunci dan sumber daya penting sekaligus memiliki andil besar dalam ekosistem rawa di Kabupaten Mappi.

Oleh Rudi Maturbongs dan Bekti Purwanti.

Tipe penutupan lahan digunakan sebagai pendekatan zonasi ekosistem yang ada di Kabupaten Mappi, di mana kriteria Nilai Konservasi Tinggi (NKT) 3 dalam pendekatan zonasi ini merujuk pada tipe ekosistem yang langka atau terancam punah. Berdasarkan pendekatan habitat spesies dan keadaan ekologinya, ekosistem yang masuk dalam kriteria ekosistem langka adalah hutan rawa primer dan rawa.

IMG_2572 JPEG

Hutan rawa sendiri merupakan ekosistem khas selatan Papua, khususnya di Mappi dan Merauke, dengan keadaan ekosistem yang dipengaruhi oleh iklim monsun. Pada musim basah lantai hutan akan terendam air, sementara pada musim kering beberapa tipe vegetasi akan beradaptasi dengan kebakaran hutan. Subekosistem yang dinilai langka ini adalah hutan rawa primer permanen dan hutan kerangas (tipe hutan hujan tropis yang setelah ditebang atau dibakar tidak dapat ditanami karena kandungan haranya rendah).

Baik untuk diketahui, ke 17 tipe vegetasi di Mappi adalah sebagai berikut: semak belukar, semak belukar rawa, hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan bakau primer, hutan bakau sekunder, hutan rawa primer, hutan rawa sekunder, hutan tanaman, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran, semak, sabana, rawa, perkebunan, tanah terbuka dan badan air. Dari 17 itu bisa dibilang hutan rawa primer dan rawa adalah yang paling unik dan langka.

Vegetasi semak belukar umumnya berada di dekat kampung atau permukiman penduduk di setiap distrik yang ada di Kabupaten Mappi. Semak belukar biasanya muncul karena bekas ladang yang ditinggalkan selama beberapa tahun, yang nanti akan kembali diolah setelah penduduk menganggap tanahnya sudah dapat ditanami kembali. Kadang, munculnya semak atau belukar juga disebabkan oleh lahan yang terbakar secara periodik setiap tahun, biasanya karena musim kemarau panjang yang terjadi di wilayah ini.

20160905_152255

Sementara vegetasi semak atau belukar berawa terdapat hampir di semua distrik yang ada di Kabupaten Mappi. Vegetasi ini biasanya terdapat di pinggiran badan air yang sering dilalui perahu, dan biasanya sampai jauh ke arah daratan tanah kering. Jenis-jenis yang tumbuh di ekosistem ini antara lain: Hanguana malayana, tebu rawa atau Phragmites karka, Pandanus sp., pandan besar atau Benstonia lauterbachii, dan gelagah (Saccharum spontaneum).

Hutan lahan kering

Untuk hutan lahan kering primer di Mappi letaknya cenderung jauh dari kampung sehingga terhindar dari kebakaran lahan. Keluarga (familia) yang menonjol pada hutan ini antara lain Myrtaceae, Myristicaceae, Fabaceae, Apocynaceae, Calophyllaceae, Rutaceae, Dipterocarpaceae, dan Lauraceae. Sementara marga yang dominan adalah Syzygium, Acacia, Alstonia, Calophyllum, Vatica dan Endiandra. Di Distrik Obaa, jenis keluarga yang menonjol pada hutan lahan keringnya adalah Myrtaceae dan Fabaceae. Sedangkan marga dominan adalah Acacia, Asteromyrtus dan Melaleuca.

Hutan lahan kering merupakan bukit-bukit kecil yang lebih tinggi dari dataran rawa luas sehingga tidak tergenang air. Pada bukit-bukit ini biasanya masyarakat membangun kampung untuk bermukim. Keluarga dominan di hutan lahan kering primer di Distrik Edera adalah Myrtaceae, Apocynaceae, Calophyllaceae, Dipterocarpaceae, Euphorbiaceae, Myristicaceae, Meliaceae, Lauraceae, Rubiaceae, dan Rutaceae.

DSCN0539

Mengenai hutan lahan kering sekunder, keadaannya sama dengan hutan lahan kering primer, namun dengan vegetasi yang lebih pendek dan berdiameter kecil (hanya beberapa yang berdiameter besar). Jenis-jenis yang tumbuh di hutan lahan kering sekunder umumnya didominasi oleh pionir (pelopor terbentuknya habitat tanaman lain), disebabkan sering menderita kebakaran jika musim kemarau terlalu panjang. Jenis-jenis yang tumbuh di hutan itu adalah Homalanthus populneus, Ficus sp., Acacia spp., Alstonia sp., Melaleuca spp., Syzygium spp., dan Asteromyrtus spp. Ada juga jenis palem-paleman seperti Hydriastele pinangoides, Hydriastele costata, Orania parva, dan Pinanga rumphiana.

Jenis Pohon di Hutan Lahan Kering Sekunder Distrik Edera Kabupaten Mappi.

NO. NAMA JENIS FAMILIA SK
1 Acacia auriculiformis Fabaceae 3
2 Acacia mangium Fabaceae 3
3 Alphitonia incana Rhamnaceae 3
4 Alstonia beatricis Apocynaceae 2
5 Asteromyrtus brassii Myrtaceae 2
6 Asteromyrtus sympiocarpa Myrtaceae 2
7 Banksia dentate Proteaceae 3
8 Beckea fruticans Myrtaceae 3
9 Decaspermum brachteosum Myrtaceae 2
10 Eucalyptus pelita Myrtaceae 3
11 Ficus sp. Moraceae 3
12 Homalanthus populneus Euphorbiaceae 3
13 Melaleuca cajuputi Myrtaceae 3
14 Melaleuca viridiflora Myrtaceae 3
15 Planchonia careya Lecytidaceae 2
16 Syzygium fibrosum Myrtaceae 3

Keterangan: 1=Sangat Jarang, 2=Jarang, 3=Sedang, 4=Banyak, 5=Berlimpah, SK=Skala Kelimpahan

Hutan riparian di Mappi

Hutan riparian (hutan di sepanjang aliran sungai) di wilayah Kabupaten Mappi dari arah pantai menuju pedalaman menunjukkan perbedaan komposisi jenis vegetasinya. Pada bagian dekat pantai setelah hutan bakau biasanya akan muncul Nipah (Nipa fruticans), Baringtonia sp., Terminalia sp., Nauclea sp., Calophyllum spp., Melaleuca spp., Myristica spp., Syzygium spp., Octomeles sp., dan Ficus spp. Di sepanjang Sungai Digoel antara Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi, vegetasi hutan riparian didominasi oleh palem Caryota rumphiana, Ficus spp., dan Octomeles sumatrana.

DSCN0910

Caryota rumphiana sendiri muncul sebagai spesies kunci yang menyediakan pakan sepanjang tahun untuk margasatwa di ekosistem hutan riparian ini. Tumbuhan itu menghasilkan buah yang melimpah dan berkesinambungan. Demikian pula dengan Ficus dan Syzygium, juga menjadi spesies kunci dan sumber pakan andalan satwa liar di wilayah riparian, terutama karena jenis dan populasinya memadai.

Jenis Vegetasi di Hutan Riparian Kabupaten Mappi.

NO. NAMA JENIS FAMILIA SK
1 Nipa fruticans Arecaceae 3
2 Terminalia brassii Combretaceae 2
3 Octomeles sumatrana Tetramelaceae 3
4 Artocarpus altilis Moraceae 3
5 Ficus spp Moraceae 3
6 Campnosperma brevipetiolatum Anacardiaceae 3
7 Syzygium spp Myrtaceae 3
8 Caryota rumphiana Mart. Arecaceae 4
9 Pinanga punicea Arecaceae 3
10 Metroxylon sagu Arecaceae 3
11 Nauclea oriantalis Rubiaceae 2
12 Calamus aruensis Becc. Arecaceae 5
13 Korthalsia zippelii Blume Arecaceae 5
14 Pandanus spp. Pandanaceae 3
15 Pometia pinnata Sapindaceae 3
16 Paraserienthes falcataria Fabaceae 2
17 Macaranga spp. Euphorbiaceae 3
18 Elaeocarpus sp. Elaeocarpaceae 2
19 Dysoxylum sp. Meliaceae 2
20 Chisocheton ceramicus Meliaceae 2
21 Neolamarckia cadamba (Roxb.) F. Bosser Rubiaceae 2

Keterangan: 1=Sangat Jarang, 2=Jarang, 3=Sedang, 4=Banyak, 5=Berlimpah, SK=Skala Kelimpahan

Sebagai informasi, rotan manau papua atau Calamus aruensis Becc. dan rotan fertilis atau Calamus fertilis Becc. sering dijumpai menjulang tinggi dan muncul melebihi tajuk pohon tertinggi di hutan riparian. Potensi rotan yang bermutu baik ini sangat besar sehingga dapat diusahakan oleh penduduk setempat sebagai industri mebel yang berkelanjutan.

Padang rumput berawa

Distrik Nambioman Bapai dan wilayah lainnya di Kabupaten Mappi umumnya memiliki sabana atau padang rumput berawa yang ditumbuhi berbagai jenis rumput-rumputan seperti Achinochloa praestans, Eleocharis dulcis, Cyperus spp., Saccharum robustum, Phragmites karka, Nepenthes gracillis, Pandanus spp. dan beberapa jenis pohon yang tahan terhadap genangan air.

Tumbuhan Sabana atau Padang Rumput Berawa di Kampung Yatan Distrik Nambioman Bapai.

NO. NAMA JENIS FAMILIA
1 Nauclea orientalis (L) L. Rubiaceae
2 Eleocharis dulcis (Burm. f.) Trin. ex Henschel Cyperaceae
3 Saccharum robustum E.W. Brandes & Jeswiet ex Grassl Poaceae
4 Nephentes gracillis Korth. Nephentaceae
5 Melaleuca viridiflora Sol. ex Gaertn. Myrtaceae
6 Melastoma malabatricum L. Melastomataceae
7 Livistona bethamii F.M. Bailey Arecaceae
8 Campnosperma brevipetiolatum Volkens Anacardiaceae
9 Metroxylon sagu Rottb. Arecaceae
10 Pandanus spp. Pandanaceae
11 Benstonia lauterbachii (K. Schum. & Warb.) Callm. Pandanaceae
12 Nephrolepis exaltata (L.) Schott Nephrolepidaceae
13 Cyperus spp. Cyperaceae
14 Praghmites karka (Retz.) Trin. ex Steud. Poaceae
15 Adina sp. Rubiaceae
16 Barringtonia sp. Lecythidaceae
17 Timonius sp. Rubiaceae
18 Dillenia alata (R.Br. ex DC.) Martelli Dilleniaceae
19 Echinochloa praestans P.W.Michael Poaceae

Sebagai lahan asuhan

Kehadiran hutan bakau di sepanjang pantai dan tepian sungai di Kabupaten Mappi sangat penting dipertahankan, karena fungsi hutan bakau adalah pencegah abrasi pesisir pantai, penghalang gelombang pasang tsunami, sekaligus habitat berbagai jenis satwa liar pesisir, seperti burung-burung dan reptilia. Lebih dari pada itu, hutan bakau merupakan wilayah pemijahan atau berkembang biak berbagai biota laut yang sangat penting, artinya tanpa adanya hutan bakau, maka biota-biota laut tersebut tidak dapat melangsungkan regenerasi jenisnya.

IMG_2878 JPEG

Bakau adalah salah satu sumber daya kunci (key resources) yang memegang peranan sangat penting dalam ekosistem pesisir pantai dan sepanjang sungai yang terpengaruh pasang surut di Kabupaten Mappi. Bengen (2002) menyatakan bahwa hutan bakau berfungsi sebagai lahan asuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan berbagai jenis hewan (feeding ground). Hasil penelitian Zainun (2016) menunjukkan ada hubungan positif antara ekosistem bakau dan produksi perikanan tangkap di Aceh, dengan nilai koefisiennya sebanyak 27,21 persen. Artinya, produksi perikanan tangkap 27,21 persen dihasilkan dari keberadaan ekosistem bakau.

Jenis-jenis bakau yang terdapat di daerah pesisir dan sepanjang tepian Sungai Digoel yang terpengaruh pasang-surut, sampai ke muara, dapat dilihat dalam tabel berikut.

Jenis Vegetasi Hutan Bakau di Kabupaten Mappi.

NO. NAMA JENIS FAMILIA
1 Aegiceras corniculatum (L.) Blanco Myrsinaceae
2 Avicennia equaliptifolia Zipp. Ex Miq. Avicenniaceae
3 Avicennia marina (Forsk.) Avicenniaceae
4 Avicennia officinalis L. Avicenniaceae
5 Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk Rhizophoraceae
6 Bruguiera parviflora (Roxb.) Wight & Arn. Rhizophoraceae
7 Ceriops tagal (Perr.) C. B. Rob. Rhizophoraceae
8 Excoecaria agallocha L. Euphorbiaceae
9 Heritiera littoralis Ait. Sterculiaceae
10 Lumnitzera littorea (Jack) Voight. Combretaceae
11 Xylocarpus granatum Koenig Meliaceae
12 Xylocarpus moluccensis (Lamk) Roem. Meliaceae
13 Rhizophora mucronata Lamk Rhizophoraceae
14 Rhizophora stylosa Griff. Rhizophoraceae
15 Sonneratia alba Sm. Sonneratiaceae
16 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. Sonneratiaceae

Tumbuhan lainnya yang ikut memperkaya keragaman jenis ekosistem bakau adalah Acanthus ilicifolius L., Cerbera floribunda K. Sch., Cerbera manghas L., Cynometra ramiflora L., Myristica hollrungii Warb., Nypa fruticans Wurmb., dan Intsia sp. Risnandar (2016) menyatakan bahwa di Indonesia, bakau tumbuh di atas lumpur aluvial di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Jenis-jenis bakau yang tumbuh di Indonesia antara lain Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Aegiceras, Scyphyphora, dan Nypa.

Ekosistem unik dan langka

IMG_3090 JPEGEkosistem rawa di Kabupaten Mappi dinilai langka karena keterkaitan sistem hidrologi antara sungai dan rawanya memang rumit. Sistem hidrologi di Kabupaten Mappi dipengaruhi oleh peristiwa pasang surut air laut sehingga dapat mengubah arah aliran air. Anda dapat melihat ini di daerah percabangan Sungai Obaa dan Widelman. Kondisi topografi rawa yang lebih tinggi dari pada badan sungai dan material tanah lempung di areal rawa Mappi membuat daya simpan air lambat, sehingga air menjadi lebih cepat mengalir ke sungai. Di sisi lain, keadaan ini justru menguntungkan, karena rawa akhirnya menjadi pemasok air atau daerah tangkapan air.

Berdasarkan sederet data di atas yang berasal dari pemetaan awal dan survei di Kabupaten Mappi, maka kawasan NKT 3 tersebar di setiap distrik Kabupaten Mappi, terutama Distrik Assue, Haju, Citak Mitak, sebagian Kaibar dan Ti Zain dengan luas seluruhnya 510.874 ha. Kombinasi unik dan langka kawasan NKT 3 termasuk hutan rawa Melaleuca-Livistona yang berjejer di sepanjang alur sungai berawa antara Distrik Obaa dan Distrik Passue. Fenomena hutan rawa yang didominasi Melaleuca dengan selingan palem Sringga Mappi (Livistona bethamii) yang ramping, menjulang tinggi dan membentuk koloni di tepian alur sungai, menjadikan rawa Mappi sebagai tempat yang unik dan langka. (IPR)

Foto: Bekti Purwanti dan tim lanskap Mappi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s