PENYEMPURNAAN RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM PEGUNUNGAN CYCLOOP – JUNI 2017

Menindaklanjuti hasil penilaian rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Cagar Alam Pegunungan Cycloop September 2016 lalu, dan berdasarkan hasil pembahasannya pada Januari 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akhirnya mengeluarkan beberapa saran kepada BBKSDA Provinsi Papua untuk menyempurnakan kembali dokumen tersebut. Rapat penyempurnaan dilaksanakan Juni 2017 kemarin di Abepura, Jayapura dan diikuti sejumlah pejabat BBKSDA dan didampingi oleh USAID LESTARI. Berikut laporan lengkapnya.

Oleh Igor Rangga dan Minata Talapessy

Wilayah Cagar Alam Cycloop (CA Cycloop) membentang di dua wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kabupaten dan Kota Jayapura sebagai ibu kota provinsi Papua. Penetapan Cycloop sebagai cagar alam berdasar pada SK Menteri Pertanian No. 56/Kpts/Um/I/1978 dengan luas 22.500 hektare, yang ditegaskan kembali secara berturut-turut melalui PP No.28 Tahun 1985 dan SK Menteri kehutanan No.365/Kpts-II/87. Pada 2012 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.782/Menhut-II/2012, luas CA Cycloop diperluas menjadi 31.479,84 hektare.

Dengan semakin luasnya wilayah cagar alam ini, sekaligus untuk meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi, maka diusulkanlah pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Cycloop Youtefa oleh BBKSDA Provinsi Papua sebagai lembaga pengelolanya. Sejak akhir 2016 dokumen pendukung KPH Cycloop, seperti rencana pengelolaan dan rancang blok, telah melalui beberapa kali pembahasan di Kementerian dan di tingkat provinsi.

Dari pembahasan-pembahasan tersebut, Kementerian menyarankan BBKSDA untuk memberikan penjabaran lebih mendalam mengenai visi yang meliputi nilai-nilai penting kawasan Cagar Alam Cycloop. Kementerian juga meminta agar di dalam dokumen disebutkan spesies apa saja yang bakal menjadi perhatian, terutama karena spesies merupakan bagian penting dalam mewujudkan sebuah pusat konservasi keanekaragaman hayati, selain sebagai pemasok air yang lestari bagi wilayah di sekitarnya. Kementerian juga meminta agar tahapan-tahapan dalam misi pengelolaan diperjelas.

DSC_3597Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu visi dan misi pengelolaan CA Cycloop, serta kondisi yang diharapkan dalam 10 tahun ke depan. Kondisi CA Cycloop yang diinginkan dalam 10 tahun ke depan adalah ditentukannya kekhasan bentang alam, adanya peningkatan populasi pada paling tidak lima spesies, serta meluasnya daerah tangkapan air.

Visi pengelolaan CA Cycloop adalah menjadikan Cagar Alam Pegunungan Cycloop sebagai pusat konservasi keanekaragaman hayati serta penyedia sumber air yang lestari untuk wilayah sekitarnya. Sementara misinya adalah:

  1. Mempertahankan keutuhan dan keanekaragaman hayati CA Cycloop yang bernilai tinggi
  2. Mempertahankan dan mengembangkan keutuhan dalam rangka pengelolaan perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati bernilai penting di CA Cycloop
  3. Menfungsikan ekosistem Cycloop sebagai daerah tangkapan air
  4. Memaksimalkan kekhasan dan ekosistem CA Cycloop sebagai laboratorium alam, pengembangan illmu pengetahuan, penelitian, dan pendididkan konservasi.

Pada rapat ini peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyempurnakan dokumen secara mendetail lewat diskusi. Dari diskusi tersebut diambillah sejumlah pokok utama yang dapat dilihat dalam uraian berikut.

Tree_kangaroo2Berdasarkan arahan Direktur Kawasan Konservasi, Ir. Suyatno Sukandar, M.Sc, sederet nilai penting harus diperhatikan oleh para penyusun dokumen RPJP, seperti menilik spesies-spesies endemik, pakannya, serta tempat hidupnya. Dari arahan tersebut diputuskan bahwa selain cendrawasih, mambruk dan kasuari, kangguru pohon (Dendrolagus) dan ekidna (Tachyglossus) dimasukkan ke dalam spesies kunci CA Cycloop.

Penyebaran cenderawasih berdasarkan hasil survei dan informasi dari masyarakat, berada di sembilan lokasi yaitu di Sereh, Maribu, Tablasupa, Yepase, Dormena, Yongsu Spari, Yongsu Desoyo, Necheibe, dan Ormu Wari. Cenderawasih sendiri masuk ke dalam 25 satwa prioritas di mana BBKSDA diberi tugas untuk meningkatkan populasinya sebanyak 10% selama lima tahun dari 2015 sampai 2019.

Saat ini sudah ada titik-titik pengamatan cenderawasih permanen seperti di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, dan sudah dilakukan survei di kampung tersebut. Dari survei 2014 terlihat bahwa populasi cenderawasih di Tablasupa sekitar sembilan ekor per km², lalu terjadi peningkatan mulai 2015 sampai 2016 menjadi 10 ekor/km² atau sebesar 9%. Namun angka tersebut masih jauh dari yang diinginkan, yaitu 20% yang tentu dapat dibantu dengan penambahan habitat, titik pengamatan, dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.

double-wattled_cassowaryUntuk kasuari, populasi dan penyebarannya terdapat di Yongsu Spari, Yongsu Desoyo, Dormena, Kertosari, Dosay, Maribu, Ormu Wari dan Necheibe. Kementerian mengharapkan adanya data yang lebih detail atas penyebaran kasuari di Cagar Alam Cycloop, selain menurunkan konsumsi orang terhadap burung ini yang menjadi tugas KPHK Cycloop. Sementara penyebaran mambruk belum diketahui secara pasti, meski warga mengaku pernah melihat mambruk di sekitar Pos 7 Kampung Sereh, Sentani. Terhadap mambruk, Kementerian menghendaki dihapuskannya perburuan atas burung ini.

Ekidna sudah semakin jarang ditemukan. Berdasarkan informasi dari masyarakat, jejak mahluk ini terakhir ditemukan pada 2016, juga di wilayah Pos 7, tepatnya di Kampung Yongsu Desoyo, dan wilayah Rindam. Sementara jejak kangguru pohon selain di Sereh, masih ditemukan di Dormena, Wambena, Yongsu Spari, Maribu Tua, Yepase, Necheibe, dan Ormu Wari.

Sebagai daerah tangkapan air

Keberadaan Pegunungan Cycloop memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura, karena Cycloop merupakan sumber utama ketersediaan air bagi wilayah-wilayah di sekitarnya. Pegunungan Cycloop juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air di mana tajuk tanaman hutan dapat menahan limpahan curah hujan yang tinggi serta meresapkannya ke dalam tanah, sehingga memperkecil laju erosi dan sedimentasi. Di samping itu tanaman hutan yang ada dapat menjaga keseimbangan iklim di wilayah tersebut.

DSCN4752Cagar Alam Cycloop sebagai daerah tangkapan air sudah sejak lama dimanfaatkan oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) dan dua perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) sebagai sumber air baku. Di samping itu mata air CA Cycloop juga telah dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya yang berada di bagian utara kawasan (daerah adat suku Imbi Numbay) sebagai sumber tenaga listrik mikrohidro.

Sementara di selatan, kemampuan CA Cycloop sebagai daerah tangkapan air telah mengalami penurunan, khususnya pada daerah adat suku Sentani. Pada 2013 PDAM menemukan bahwa telah terjadi penurunan debit air pada 15 titik penimbaan (intake), yang berbatasan langsung dengan areal penggunaan lainnya (APL).

Cagar Alam Cycloop sebagai kawasan tangkapan air bagi Kabupaten dan Kota Jayapura jelas harus dipertahankan dan dilestarikan ekosistemnya sehingga dapat memberikan manfaat ekologis jasa lingkungan secara berkelanjutan. Peserta rapat setuju bahwa upaya penanaman kembali atau reboisasi bekerja sama dengan pihak-pihak yang mendapatkan manfaat harus segera dilaksanakan.

Menyempurnakan dan melengkapi RPJP

DSC_3630Dari diskusi kelompok maka terlihatlah pokok-pokok dokumen yang perlu dilengkapi dan diperbaiki oleh KLHK Cycloop. Yang utama adalah tujuan pengelolaan, di mana tujuan pengelolaan harus menjabarkan visi dan meliputi nilai-nilai penting kawasan yang akan diwujudkan. Untuk itu pada visi yang telah ditetapkan sebelumnya, terdapat beberapa hal yang perlu dijelaskan, seperti spesies apa saja yang menjadi perhatian dalam mewujudkan pusat konservasi keanekaragaman hayati yang terdapat di CA Cycloop dan apa target untuk menjadikan Cycloop sebagai penyedia air bagi wilayah di sekitarnya.

Tujuan pengelolaan CA Cycloop sendiri setelah disempurnakan dapat terlihat sebagai berikut:

  1. Meningkatkan mutu habitat kehidupan alam liar serta terjaganya populasi jenis satwa endemis penting, seperti cenderawasih, mambruk, kasuari, kangguru pohon dan ekidna
  2. Meningkatkan kegiatan penelitian keanekaragaman hayati dan pendidikan cinta alam
  3. Mempertahankan luas tutupan lahan di CA Cycloop
  4. Terbentuk dan terbinanya kelompok-kelompok mitra penggelolaan kawasan, serta
  5. Mempertahankan kearifan lokal masyarakat lewat pelestarian alam.

Irwan Effendy, Kepala Bidang II Nabire mengatakan bahwa rencana aksi pada matriks kegiatan per tahun di dokumen penyempurnaan RPJP bakal dimasukan ke dalam operasional KPHK 2017. Evaluasi dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) kemudian diubah menjadi evaluasi fungsi dan peta kawasan dengan mengacu pada penempatan spesies endemik. “Evaluasi tersebut untuk mengetahui apakah spesies dimaksud masih ada atau tidak,” kata Effendy.

DSC_3578Menanggapi hal tersebut Mariana Rahawarin, Plt. Kepala KPHK Cycloop Youtefa berpendapat bahwa jika sudah ada titik pengawasan burung cenderawasih maka diharapkan juga ada titik pengawasan untuk spesies endemik lainnya yang tercantum di dalam matriks, ini untuk mengetahui populasi juga data penyebarannya. “Data tersebut nantinya mempermudah BBKSDA Papua untuk mendapatkan data yang efesien. BBKSDA juga bisa dengan mudah mengetahui peningkatan spesies endemik tersebut,” kata Rahawarin.

Pokok-pokok dokumen yang perlu dilengkapi dan diperbaiki dapat dilihat lewat telaah Rencana Pengelolaan Jangka Panjang CA Pengunungan Cycloop berikut ini:

  Hal Keterangan
Bab ISI
  I PENDAHULUAN
  Informasi umum memuat letak, luas, lokasi, sejarah kawasan, aksesbilitas, kondisi fisik, potensi hayati dan nonhayati, sosial ekonomi dan budaya. Sudah cukup jelas.
  Kondisi saat ini dirumuskan berdasarkan pemutakhiran data dan informasi dari hasil inventarisasi potensi kawasan yang memuat antara lain kondisi dan status terkini nilai penting kawasan dan isu strategis pengelolaan yang ada. Sudah cukup jelas.
  Kondisi yang diinginkan menggambarkan mengenai kondisi umum kawasan dan nilai penting yang diwujudkan melalui pengelolaan 10 tahun ke depan, berdasarkan kajian analisis kekuatan dan kelemahan dengan memerhatikan perubahan lingkungan strategis, dan isu konservasi nasional dan internasional. ´  Berupa kondisi yang diinginkan terhadap nilai penting kawasan yang akan diwujudkan dalam 10 tahun ke depan

´  Kekuatan dan kelemahan yang menjadi landasan sebatas terkait nilai penting kawasan

´  SWOT yang ada dipindahkan pada Strategi dan Rencana Aksi.

II VISI, MISI DAN TUJUAN PENGELOLAAN
  Visi merupakan pernyataan mengenai kondisi ideal kawasan yang akan diwujudkan. Sudah sesuai.
  Misi merupakan pernyataan tentang hal–hal yang harus dikerjakan/dilakukan untuk mewujudkan visi. Tidak sesuai

´  Tujuan pengelolaan merupakan penjabaran visi pengelolaan

´  Fokus pengelolaan ada dua hal, yaitu pusat keanekaragaman hayati dan penyedia sumber air. Dua hal yang menjadi fokus pengelolaan dapat dijelaskan lebih lanjut, perlu disebutkan dua, tiga jenis yang menjadi prioritas untuk menggambarkan arah pengelolaan kawasan dalam 10 tahun kedepan.

III ZONA DAN BLOK PENGELOLAAN Sudah sesuai

´  Sudah disahkan melalui keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor: 448/KSDAE/SET/KSA.0/12/2016 tanggal 30 Desember 2016.

Blok terbagi atas:

·         Blok perlindungan

·         Blok rehabilitasi

·         Blok khusus

IV STRATEGI DAN RENCANA AKSI

Strategi merupakan tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam setiap misi yang telah ditetapkan

Tidak sesuai

´  SWOT perlu ditarik ke Strategi

´  Strategi merupakan tahapan yang akan dilakukan dari misi yang telah ditetapkan

´  Strategi yang dihasilkan dari SWOT sebaiknya sama dengan strategi yang ditetapkan dalam bab ini

´  Secara subtansi prioritas pengeloaan dan strategi adalah sama dan merupakan hasil SWOT.

  Rencana Aksi  merupakan rincian jenis-jenis kegiatan dalam setiap strategi yang memuat instansi/lembaga penyelenggara, indikasi kebutuhan anggaran, Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) maupun nonDIPA dan likasi kegiatan. Operasional KPHK dimasukkan mulai 2017, karena proses RPJP merupakan salah satu tahapannya yang saat ini sedang berlangsung.
V PEMANTAUAN DAN EVALUASI
  Menjabarkan rencana dan metode pelaksanaan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana aksi pada masing–masing tujuan pengelolaan. Tidak sesuai

´  Evaluasi fungsi dapat menjadi salah satu metode dalam rangka pemantauan dan evaluasi nilai penting kawasan. Sedangkan LAKIP merupakan dokumen untuk menilai akuntabilitas kinerja unit pelaksana tugas (UPT).

  LAMPIRAN
  Peta Nilai Penting Kawasan Sudah ada, namun perlu dijelaskan dalam legenda lebih detail, misalnya jenis satwa apa yang ditunjuk.

Sekadar informasi, dokumen hasil penyempurnaan RPJP ini telah dibawa ke Direktorat Kawasan Konservasi di Jakarta oleh BBKSDA Papua, Kepala Bidang Teknis Achmad Yani dan Kepala Bidang II Nabire Irwan Effendy, untuk diperiksa kembali sekaligus menunggu pengesahan dokumen tersebut. Sementara matriks penyempurnaan RPJP dapat diunduh lewat tautan berikut https://goo.gl/fD6DCB

Foto: Igor Rangga, Mochtar Tanassy, Wikimedia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s